METODOLOGI
Studi kasus
ini dilakukan pada lokasi drainase yang sering
terendam air ketikaintensitas hujan tinggi di jalan Tanjung 2 B. Dramaga,
Bogor. Denah lokasi terdapat padagambar 1. Pengamatan terjadinya genangan air
dilakukan pada saat hujan pada tanggal 10Mei 2013 pukul 16.00 – 18.30 WIB.
Dalam rentang waktu tersebut, genangan dan luaswilayah yang terkenda banjir
dapat dengan mudah diamati. Penelitian ini menggunakan alatdan bahan berupa
kamera, seperangkat komputer, meteran dan data curah hujan KabupatenBogor
minimal 10 tahun. Data curah hujan yang digunakan yaitu data curah hujan KabupatenBogor
dari tahun 2002-2011 dari stasiun pengamatan Atang Sanjaya. Data tersebut
cukuprepresentatif mengingat jarak dari stasiun Atang Sanjaya ke Dramaga
berjarak 30 km. Untukmendesain saluran drainase, terlebih dahulu dihitung debit
puncak yang mungkin terjadidalam periode ulang tertentu. Dalam penelitian ini,
digunakan periode ulang 5 tahun. Periodeulang 5 tahun dianggap cukup untuk
mendesain saluran drainase dan cukup untuk mencegah peluang terjadinya
banjir. Debit puncak dihitung menggunakan metode rasional.
Penelitian
ini menggunakan alat dan bahan berupa kamera, seperangkat komputer,meteran dan
data curah hujan Kabupaten Bogor minimal 10 tahun. Data curah hujan
yangdigunakan yaitu data curah hujan Kabupaten Bogor dari tahun 2002-2011 dari
stasiun pengamatan Dari BMKG Pusat.
Gambar 1. Gambar Lokasi studi kasus menggunakan Google Earth
HASIL
Kondisi
Saluran Drainase Eksisting
Gambar 2. Debit Di Drainase Pada Awal Hujan
Gambar 3. Meluapnya Kapasitas Tampung Saluran Drainase
Hasil Perhitungan di Lapangan Saluran Berbentuk Trapesium
Gambar 4. Penampang Saluran Eksisting Satuan dalam milimeter
L = 400 mm = 0,4 m
B =110 mm = 0,11
m
d
= 305= 0,305 m Z = 0,48 m
Perhitungan
kemiringan saluran mengunakan theodolite, sehingga didapat panjang saluran 58,
5 m dan beda tinggi -2,812 m sehinga diperoleh :
S = 0,05
PEMBAHASAN
Perhitungan Kapasitas Saluran Drainase Eksisting
Luas penampang basah saluran berbentuk trapesium maka dihitung menggunakan persamaan:
A = Bd+ zd2
= 0,078 m2
= 0,79 m
Radius Hidrolis dihitung menggunakan persamaan : R =A/P
=0,078 m2
/0,79 m = 0,1 m
Kecepatan aliran dapat dihitung menggunakan persamaan :
V =K * R2/3* S1/2
=2,9 m/s
K et : K = koefisien kehalusan diambil 60 karena material saluran
terbuat dari beton cor dipoles
Debit saluran di eksisting dapat dihitung menggunakan
persamaan Q = V *A
= 0,1 m * 2,9 m/s = 0,22 m3/detik
Perhitungan Debit Banjir Rencana.
Untuk menghitung waktu aliran air di atas permukaan tanah sampai ke ujung saluran
td = l/v = 20,37 detik = 0,340 menit
Waktu konsentrasi
Kemiringan =
0,05
Koefisien penampungan
= 0,893
Perhitungan
curah hujan dan Rencana
Tabel 1. Data
curah hujan harian maksimum 12 jam
|
Curah Hujan Harian Maksimum
(mm/hari)
|
Tahun
|
|||||||||
|
2002
|
2003
|
2004
|
2005
|
2006
|
2007
|
2008
|
2009
|
2010
|
2011
|
|
|
131.6
|
119.2
|
94.0
|
120.5
|
120.5
|
339.8
|
160.0
|
114.0
|
103.6
|
120.5
|
|
Sumber : BMKG pusat, 2012
Tabel 2. Hasil
Perhitungan Curah Hujan Harian Maksimum Menggunakan Rainbow
|
Sebaran
|
Periode
|
R2
|
||
|
5 Tahun
|
10 Tahun
|
20 Tahun
|
||
|
(mm/hari)
|
||||
|
Normal
|
195.2
|
222.9
|
245.7
|
0.53
|
|
Log Normal
|
178.4
|
208.5
|
237.1
|
0.67
|
|
Square Normal
|
215.3
|
240.0
|
258.6
|
0.44
|
|
Square Root Normal
|
186.2
|
215.1
|
240.6
|
0.60
|
Dari hasil perhintugan menggunakan software rainbow yang
dapat dilihat di tabel 2 , metode sebaran yang digunakan yang memiliki R2
mendekati 1 adalah metode sebaran Log Normal. Curah hujan maksimum harian yang
digunakan adalah periode ulang 5 tahun yaitu 178.4 mm/hari yang kemudian
digunakan untuk perhitungan debit puncak banjir.
Debit Banjir Rencana
Analisis
hidrologi didapatkan dari perhitungan besaran debit puncak aliran genangan
banjir dengan menggunakan persamaan berikut dengan nilai R24 yang
digunakan adalah 178.4.
Gambar 6. Luas Daerah Resapan Air menggunakan pengolahan Google Earth
Debit Puncak Banjir
A= 33000 m2
Qp = Cs *C*I*A =
0,30087718 m3/detik = 0,30 m3/detik
Ket: C : koofisien run off diperoleh 0.75 untuk
perumahan multi unit tergabung (Suripin, 2004)
Rekomendasi Saluran Yang Tepat yang
Mampu Menampung Debit Puncak Banjir Jika
saluran penampang diubah dari trapesium ke dimensi persegi dengan keterangan
panjang terdapat pada gambar 7.
B = 400 mm = 0,400 m
H = 305 mm = 0,305 m
Gambar 7. Saluran Rencana dalam Satuan milimeter
Luas Penampang saluran
A = B* H
= 0,122 m2
Maka keliling basah
P = B + 2 H
= 0,400 m + 2
(0,305) m =1,010 m
Radius Hidrolis
R = A/P
= 0,122 m2
/ 1,010 m = 0,121 m
Kemiringan saluran dari panjang saluran tetap sama 0,05 V = K * R2/3*
S1/2
= 3,28 m/detik
Debit Saluran Rencana
Q = V * A
= 3,28 * 0,122
= 0,40 m3/detik
Karena kapasitas debit desain saluran 0,40 m3/s
daripada debit puncak banjir 0,30087718 m3/s maka saluran dapat
dijadikan rekomendasi untuk saluran drainase.
Gamabr 8. Saluran Drainase Rekomendasi dalam Satuan Meter
KESIMPULAN
kemampuan saluran drainase dari penampang eksisting
trapesium tidak mampu menampung debit puncak 0,30 m3/detik sehinga
bentuk desain eksisting dari trapezium direkomendasikan berbentuk persegi
sehingga kapasitas tapung drainase lebih besar dibandingkan dari bentuk
trapesium 0,22 m3/detik menjadi 0,40 m3/detik. Kapasitas
tampung saluran rekomendasi persegi mampu menampung debit puncak banjir 0,30 m3/detik.
Referensi
Departemen Pekerjaan Umum, 2006. Pedoman Konstruksi dan Bangunan
Perencanaaan Sistem Drainase Jalan. Pd.T-02-2006-B.
Direktorat
Jenderal Bina Marga, 1990. Petunjuk Desain Drainase Permukaan Jalan. NO.
008/T/BNKT/1990.
Putri AP, 2012.
Kajian sistem drainase di Daerah Jalan Swadarma Raya, Jakarta Selatan.
Bogor; IPB
Suripin, 2004.
Sistem Drainase Perkotaan Yang Berkelanjutan. Yogyakarta; Andi.









Komentar
Posting Komentar